Tegakknya Keadilan | Part 2

Kisah Islami | Tegakknya Keadilan

Kisah Islami


Kesal hatinya menerima perlakuan itu. Dikumpulkan potongan-potongan rambutnya yang berserakan. Dia diam, tapi wajahnya membayangkan betapa marah hati orang itu. Ya....bagaimana tak marah dan kesal, harga diri dan kehormatannya telah diinjak-injak, di muka umum lagi. Bukankah itu memalukan? “Kehormatan ini harus kurebut kembali. Apapun caranya!” hatinya bertekad mantap. Keyakinannya penuh, bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolongnya.

Wajah orang itu menjadi merah padam tak karuan warnanya. Marah bercampur malu, betapa tidak ? orang-orang yang ikut menyaksikan hukuman itu ada yang tertawa geli melihatnya. Memang lucu juga. Seorang yang gundul sedang duduk berjongkok mengumpulkan potongan rambutnya yang berceceran. Dadanya semakin sesak, rasanya di mau menjerit saat itu juga.

Ternyata ada juga beberapa orang yang tidak dapat tersenyum melihat itu. Hati mereka ikut juga terluka menerima perlakuan demikian. “benar-benar keterlaluan”, desis beberapa orang itu. Bersemangat mereka mendorong dan mendukung keinginan orang itu. Mereka menyatakan siap apabila timbul akibat yang tidak diinginkan dari laporan itu. Karena bagi mereka hanya itu yang akan dapat mengingatkan wali mereka yang gegabah itu.

Mantap orang tersebut berangkat ke madinah. Kota di mana khalifah Umar bin Khaththab berada. Kota tempat terpeliharanya kehormatan dan hak-hak asasi manusia terjaga. Kota tujuan orang-orang lemah teraniaya mendapatkan haknya kembali. Di sanalah kebatilan terinjak-injak. Juga di mana si lemah akan menjadi kuat karena haknya. Sedang si kuat akan menjadi lemah karena kedholiman. Kota yang dilindungi dan diayomi Umar bin Khaththab, wali yang agung dan jujur. Ke sanalah tujuan orang Badui penduduk Basrah itu untuk memperjuangkan hak dan kehormatannya yang hilang.

Di Madinah, tampak Umar sedang duduk bersama para sahabat dan stafnya. Orang Badui itu sesampai di Madinah langsung meminta izin masuk menghadap Umar. Hatinya masih kesal oleh perlakuan Abu Musa. Dengan marah dia menghadap masuk. Spontan dilemparkannya sesuatu dari sakunya ke hadapan Umar. Wajah dan geraknya menunjukkan kemarahan yang menyala di dadanya. Semua yang hadir terkejut melihat itu, sehingga tak dapat berbuat apa-apa. Mereka begitu kaget. “betapa beraninya orang ini”, kata hati mereka. Seorang rakyat biasa berani bertindak begitu gegabah. Pemimpin mereka yang selama ini terkenal kewibawaan dan ketegasannya dilempari seikat rambut orang yang belum dikenalnya. Berharap dan berdebar cemas semua yang hadir menunggu perkembangan keadaan.

Ternyata keadaan tidak berkembang mengkhawatirkan. Umar tersenyum saja menghadapi keadaan yang demikian itu. Beliau tidak marah menerima perlakuan yang tidak sopan. Umar tidak bergeser setapak pun dari tempatnya. Nur Ilahi telah menunjukkan kepada beliau, bahwa perbuatan orang ini adalah pelampiasan kekesalan dan sakit hati karena kedholiman dan tekanan rasa yang dialami. Raut muka Umar tetap tenang, ketika mendengar teriakan orang tersebut.

“Demi Allah sekiranya aku tidak takut....!”, teriak orang badui itu terputus. Perkataan yang lantang dan penuh emosi itu disambung oleh Umar dengan tenang sambil memandang hadir. “Benar katanya. Seandainya tidak takut akan api neraka” kata Umar dengan penuh kebijaksanaan. Beliau memaklumi betapa kacau dan bingung orang itu. Akhirnya, Badui tersebut tertunduk malu. “Ya Amirul Mukminin. Aku adalah seorang  yang terkenal sebagai jagoan yang disegani kawan dan ditakuti lawan”, katanya dengan lirih. Meskipun demikian, masih terlihat bahwa dia belum mampu menyembunyikan kesakitan dan kekesalan hatinya.

Dengan sabar Umar menanyakan apa masalahnya. Akhirnya si Badui tersebut bercerita apa yang dialaminya di Bashrah dari wali kotanya, Abu Musa. “Aku dicambuk dua puluh kali dan dicukur gundul olehnya. Mungkin dia menyangka tidak akan ada yang dapat membalasnya,” ungkap orang itu di akhir cerita.

Amirul Mukminin diam sebentar mendengar cerita itu. Beliau tidak menyalahkan orang itu. Badui itu bertindak lancang karena merasa haknya terinjak-injak. Kepada semua yang hadir, Umar berharap mereka tidak menyalahkan perbuatan dan sikap orang tersebut. Bahkan beliau mengagumi keberaniannya dengan berucap, “Sungguh aku akan sangat senang, apabila kalian sekeras orang ini. Terutama dalam menuntut apa yang menjadi haknya. Itu lebih baik dari semua hasil perjuangan yang dikaruniakan Allah padaku.”

Amirul Mukminin Umar sangat heran sekaligus terkejut mendengar dan melihat kelakuan Abu Musa. Beliau segera menangani masalah ini. Karena hal ini menyangkut citra pemimpin-pemimpin Islam. Tapi Umar tidak begitu saja mengambil tindakan atas Abu Musa. Sebagai penguasa, seseorang yang harus menegakkan kebenaran, beliau tidak dapat menetapkan sesuatu begitu saja. Beliau harus mendengar juga dari Abu Musa. Akhirnya beliau menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Abu Musa. Beliau tidak mau bertindak gegabah, dengan langsung menjatuhkan vonis hukuman kepada Abu Musa. Surat yang beliau kirimkan berbunyi :

“Assalamu’alaikum. Salam sejahtera buat Anda. Salah satu penduduk kota Anda telah datang menghadap saya  di Madinah. Dia telah menceritakan semua persoalan yang menimpanya. Jia Anda bertindak terhadapnya di muka umum, siapkan diri Anda untuk menerima pembalasan , sebagaimana yang Anda lakukan terhadapnya. Jika secara tertutup hal itu Anda lakukan, siapkan diri Anda pula untuk diperlakukan hal yang demikian darinya. Wassalam.”

Abu Musa menerima surat itu. Betapa kecil dirinya, yang baru disadari setelah dibaca surat itu. Ternyata jabatan dan kedudukannya tidak memberikan manfaat dari perlindungan baginya, kecuali kebenaran semata. Juga tidak satupun yang dapat menolong menghindarkan dirinya dari siksa dan adzab Allah yang menimpa.

“Terima kasih Umar. Anda telah menyadarkanku akan kekhilafan selama ini. Engkau telah menempatkan hak dan kebenaran di atas semuanya. Jabatan dan berbagai embel-embel lain kehormatan akan musnah. Tetapi kebenaran dan hak tetap abadi, kekal selamanya,” kata Abu Musa kepada dirinya sendiri sesaat setelah membaca dan merenungi isi surat Umar itu.

Hati Abu Musa bimbang juga. Apakah dia akan duduk sebagai tertuduh? Akan diadili oleh seorang rakyatnya. Di depan umum lagi. Sedangkan dia adalah pemimpin mereka, seorang yang bekedudukan tinggi, serta salah satu sahabat Rasulullah juga, dia harus menjalani hukuman yang setimpal. Dua puluh kali cambuk dan potong cukur gundul. “Ah....”, hela nafasnya panjang. Hatinya resah. Berat rasanya menjalankan hal itu. Tapi apa mau dikata. Kebenaran bagaimanapun harus ditegakkan. Jika dia menolak berarti dia menegakkan kedholiman dan kesalahan, satu hal yang dihindari Islam. “Ya...aku harus menjalankan hal itu. Bagaimanapun rasanya”, itu kata hati Abu Musa. 

Beberapa hari kemudian datanglah orang Badui itu dari Madinah. Suasana hatinya sudah banyak berubah. Keberangkatannya yang dengan kekesalan dan amarah telah kembali surut. Kekesalan yang membuatnya lancang dan telah bertindak kasar terhadap Amirul Mukminin telah membuatnya menyesal. Kemarahan yang ditanggapi dengan kebijaksanaan oleh Umar membuatnya ia lupa kekesalan hatinya. 

Perasaan itulah yang dibawanya pulang ke Bashrah. Hatinya gembira, sebab telah datang kesempatan baginya untuk mendapatkan kembali harga diri dan kehormatannya. Dia akan membalaskan  perbuatan yang setimpal kepada Abu Musa. Dengan itu dirasanya orang tidak mudah mempermainkan harga dirinya lagi. Kehormatan dan harga dirinya akan dihormati orang lain sebagaimana dia menghormati hak orang lain. Langkahnya pasti meninggalkan Madinah menuju ke Bashrah. Hatinya berbunga-bunga karena gembira. Sepanjang jalan seolah dia berteriak pada siapa saja yang lewat. “Lihatlah aku! Aku berhasil mengembalikan kehormatanku lagi. Akulah seorang yang berani melaporkan dan menuntut hak dan balasan yang setimpal dari seorang wali kota. Dan sekarang aku akan bertindak yang sama terhadapnya!” itulah kata-kata yang ingin diteriakkannya sepanjang perjalanannya ke Bashrah.

Pembalasan akhirnya dilakukan. Masyarakat berkumpul untuk menyaksikan. “Sidang yang mengerikan”, kata mereka. Seorang wali kota yang terpandang akan dihukum cambuk dua puluh kali dan dipotong gundul oleh seorang awam, masyarakat biasa tanpa kedudukan. Masyarakatlah yang gelisah menerima sidang itu. Beberapa tokoh terkenal telah berusaha membujuk agar orang Badui tersebut memaafkan Abu Musa. Abu Musa seorang cendekia yang banyak berjasa dan juga shahabat Rasulullah. Tapi orang tersebut menolak permintaan itu.

Putusan akan penolakan yang dilakukan orang badui itu memanaskan suasana. Ternyata banyak masyarakat yang tidak bisa menerima pemimpinnya diperlakukan begitu rendah, memang benar! Kebenaran dan keadilan harus ditegakkan. Tapi bukankah masih ada hukum yang dapat mengimbangi perbuatan itu. Yaitu kebijaksanaan dan rahmat Allah. Allah pasti akan memberikan rahmat-Nya bagi siapa saja yang mengharap pahala Allah dan ampunan serta maghfirah dari-Nya.

Tapi ada sebagian orang yang bergembira dengan itu. Hukuman itu akan menunjukkan kesamaan semua manusia dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Siapa yang bersalah harus mendapatkan hukuman, tanpa pandang bulu. Islam yang mengajarkan persaudaraan, kasih sayang antar sesama, saling bahu membahu, serta berlomba berbuat kebajikan serta menjauhi kejahatan. Setiap orang harus menerima pembalasan yang setimpal dari perbuatan yang dilakukan. Hal itu adalah untuk menghindarkan permusuhan antar umat. Juga menghindarkan perbuatan sewenang-wenang bagi yang kuat atas yang lemah.

Abu Musa tidak menghindari dari hukuman yang ditimpakan terhadapnya. Dia duduk dengan diam di tempatnya. Masyarakat sangat prihatin dengan kejadian itu. Rasanya tak tega melihat pemimpin mereka dicambuk. Mereka memejamkan mata ketika hukuman akan dilaksanakan. Orang Badui itu kemudian mendatangi Abu Musa, wali kota Bashrah . dipandangnya abu Musa dengan berbagai perasaan. Terngiang di telinganya akan “Barangsiapa yang menganiayamu, aniayalah dia sebagaimana yang dilakukan terhadapmu.” Tapi sebelum melakukan keinginannya itu, nuraninya berbisik, “sebenarnya dia bermaksud baik. Dengan kesabaran, kedudukan, serta ilmunya dia berusaha melakukannya demi kepentingan ummat. Tapi tak seharusnya dia menghukum aku hanya karena tuntutanku itu. Tapi.....apakah tak sebaiknya kumaafkan saja dia?”

Didengarnya hati kecilnya berdialog mempertanyakan kebenaran tindakan yang akan dibuatnya. “Ya...memang sekarang tak ada lagi yang akan menghalangiku. Aku bebas membalaskan sakit hatiku padanya. Memang tak pantas aku memaafkannya. Tapi bagaimana jika karena Allah hal itu kulakukan?” itulah bisikan yang menahan langkahnya.

Orang badui itu berhenti sejenak. Ditundukkannya kepala untuk berpikir lebih lanjut. Akhirnya dengan tersenyum diangkatnya muka memandang ke atas. Hatinya tenang karena telah mendapatkan kepastian. Dia akan memberi maaf kepada Abu Musa meskipun telah menginjak harga diri dan kehormatannya. Tersenyum dia berkata. “Ya Allah! Aku memberi maaf kepadanya...” kepalanya tertunduk. Nafasnya lega. Tak lama kemudian terdengar suara takbir menyambut putusannya itu. Sedang Abu Musa menangis mendengarnya. Tangis yang mencerminkan keharuannya. Tangis ungkapan rasa terima kasihnya atas seseorang yang telah dianiayanya. Tangis yang muncul dari kebersihan dan ketulusan hati Abu Musa.


________________
dari kitab وحي القلم وقصص من التاريخ


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama